Sunday, December 30, 2018

Membeli Perusahaan

MEMBELI PERUSAHAAN

Memiliki sebuah perusahaan besar, berkinerja bagus dan terpercaya, merupakan dambaan atau keinginan sebagian besar orang. Namun untuk mewujudkannya bukan perkara mudah, sebab membangun sebuah perusahaan yang bonafide tidak bisa secara instan dan tidak bisa dengan cara asal-asalan.  
Perusahaan dengan kinerja cemerlang membutuhkan antara lain kerja keras (juga) cerdas, ketekunan dan keuletan, manajerial bisnis yang mumpuni, pengelolaan aset yang jempolan, pengelolaan sumber daya manusia (karyawan) yang oke, mitigasi resiko kegagalan usaha, dan terutama modal yang cukup.
Tidak hanya sampai di situ, bahkan setelah berdiri, perusahan akan melewati fase dimana tantangan dan peluang datang silih berganti di tengah-tengah kompetisi bisnis. Untuk dapat tumbuh besar dan bagus, semua itu harus dapat dikelola dan dimanfaatkan dengan optimal. Biasanya fase tersebut berlangsung tidak sebentar, melainkan perlu waktu bertahun-tahun. Jika pemilik perusahaan terjun langsung menangani operasional perusahaan,  tentu saja semua itu akan menyita waktu, tenaga, pikiran dan sekaligus biaya.
Dengan modal yang terbatas, mendirikan sebuah perusahaan tentu saja dimungkinkan, misalnya dengan mengajak teman atau keluarga dengan cara patungan modal. Namun hal itu pun tidaklah sederhana, karena diperlukan kesepahaman dan kesepakatan bersama antara lain mengenai bidang usaha yang akan dijalankan, bagaimana cara mengelola bisnisnya dan siapa bertanggung jawab apa. Perlu chemistry yang solid.
Lain halnya jika dana yang tersedia sangat banyak, tinggal beli saja sebuah perusahaan besar, bagus dan terpercaya yang sudah jadi dan sedang berjalan, sehingga tidak memulainya dari awal dan tidak direpotkan dengan hal-hal seperti disebutkan di atas. Perusahaan yang sudah terbukti survive dalam berbagai kondisi perekonomian, yang senantiasa menghasilkan keuntungan besar, yang terpercaya dan sudah punya brand image positif di tengah-tengah konsumen, bahkan menguasai ceruk pasar yang luas.
Ibu Ninoy (sebut saja demikian namanya) memiliki dana hanya sebesar Rp1.000.000.000 (satu milyar Rupiah), namun Ibu Ninoy berkeinginan mempunyai perusahaan besar dan bagus yang sudah berjalan (existing) di sektor industri pertambangan batubara, maka Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah tempat yang tepat bagi Ibu Ninoy untuk membeli perusahan dimaksud. Di BEI Ibu Ninoy bisa membeli (memiliki) PT. Bukit Asam Tbk (PTBA) secara bertahap dengan cara membeli sahamnya sedikit demi sedikit disesuaikan ketersediaan dana yang ada tanpa perlu repot mengurusi langsung operasional perusahaan.
Posisi pada bulan desember 2018, terdapat lebih dari 600 (enam ratus) perusahaan (emiten) yang berstatus Terbuka (Tbk) dari berbagai sektor industri yang tercatat di BEI dan sahamnya diperjualbelikan pada setiap hari bursa. Harga sahamnya pun bervariasi mulai dari Rp50 (lima puluh rupiah) hingga puluhan ribu Rupiah per lembar.
Bagaimana caranya? sangat mudah. Ibu Ninoy mendaftar sebagai nasabah di salah satu perusahan sekuritas (pedagang perantara efek). Setelah tercatat sebagai nasabah, Ibu Ninoy mendapatkan Rekening Dana Investor (RDI) sebagai sarana penyetoran dana untuk keperluan transaksi jual beli saham, kemudian mendapatkan akun dalam platform online lengkap dengan userID dan password, yang kesemuanya itu atas nama Ibu Ninoy sendiri dan dapat dibuka hanya oleh Ibu Ninoy.
Perusahaan sekuritas yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI saat ini jumlahnya mencapai puluhan, baik yang berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun Badan Usaha Milik Swasta (BUMS) nasional maupun asing. Biaya pembukaan akun bervariasi mulai dari Rp100.000 (seratus ribu rupiah) hingga Rp10.000.000 (sepuluh juta rupiah) tergantung kebijakan masing-masing perusahaan sekuritas.
Perlu diingat bahwa dana yang dikeluarkan nasabah untuk membuka akun tersebut tidak menjadi milik perusahaan sekuritas, melainkan tetap menjadi milik nasabah yang bersangkutan untuk keperluan transaksi pembelian saham. Perusahaan sekuritas hanya mengutip biaya transaksi beli dan transaksi jual dari nasabah atas pembelian atau penjualan saham yang dilakukan nasabah. Biaya transaksi beli besarnya bervariasi antara 0,15% - 0,18% dari nilai transaksi beli, dan biaya transaksi jual (berikut pajak) antara 0,15% - 0,28% dari nilai transaksi penjualan saham yang dilakukan nasabah.
Dengan dana sebesar Rp1.000.000.000, pada tanggal 2 Januari 2018 Ibu Ninoy membeli saham PTBA dengan harga Rp2.500 per lembar, maka Ibu Ninoy mendapatkan sebanyak 400.000 lembar (di luar fee transaksi beli). Jumlah saham beredar PTBA saat ini sebanyak 11.520.659.250 lembar, dengan demikian kepemilikan Ibu Ninoy atas PTBA sebesar 0,003%.
Meski hanya sebesar 0,003%, Ibu Ninoy adalah pemilik sah PTBA. Oleh karena itu Ibu Ninoy berhak atas keuntungan/laba bersih yang diperoleh PTBA. Namun sebagai pemilik, tentu saja Ibu Ninoy berkewajiban juga menanggung utang PTBA atau bahkan menanggung rugi jika saja PTBA mengalami kerugian.
Berdasarkan Laporan Keuangan Tahun 2017, ekuitas (modal bersih) PTBA Rp13.799.985.000.000 sehingga nilai buku (book value) PTBA Rp1.197,85. Liabilitas (kewajiban/utang) Rp8.187.497.000.000 sehingga pada setiap lembar saham PTBA melekat kewajiban/utang Rp710,68. Aset PTBA Rp21.987.482.000.000 sehingga nilai aset yang melekat pada setiap lembar saham PTBA Rp1.908,53.
Laba bersih PTBA pada tahun buku 2017 Rp4.476.444.000.000 sehingga laba bersih yang melekat pada setiap lembar saham (earning per share) atau EPS saham PTBA Rp388,56. Artinya dengan modal bersih (ekuitas) Rp1.197,85 dihasilkan laba bersih Rp388,56, sehingga rasio laba bersih terhadap ekuitas (return of equity) atau ROE setara dengan 32,44%, sedangkan rasio laba bersih terhadap modal kotor (aset) atau ROA setara dengan 20,36%. Kinerja usaha yang bagus, lebih tinggi dibandingkan dengan bunga simpanan deposito di bank yang hanya sekitar 5% (lima persen) per tahun.   
Sesuai dengan data nilai buku pada laporan keuangan di atas, maka pembelian pada harga Rp2.500 per lembar saham artinya Ibu Ninoy membeli 2,09 kali lebih mahal dari nilai yang seharusnya sebesar Rp1.197,85. Tapi karena PTBA ini merupakan salah satu best company di Indonesia, harga sebesar itu berani saja diambil Ibu Ninoy, pikirnya bahwa harga perusahaan bagus memang mahal, jarang sekali atau bahkan tidak ada yang murah.

Gambar : google image










Pada bulan Mei 2018, PTBA membagikan laba bersih tahun buku 2017 dalam bentuk dividen tunai kepada para pemilik PTBA (pemegang saham) Rp318,52 per lembar saham. Ibu Ninoy sebagai pemilik PTBA meski baru mulai sejak bulan Januari 2018 berhak atas dividen tersebut. Jumlah dividen yang didapatkannya yaitu Rp318,52 x 400.000 lembar = Rp127.408.400,00. Setelah dipotong pajak penghasilan sebesar 10%, maka Ibu Ninoy menerima dividen bersih Rp114.667.200,00. Jumlah tersebut setara dengan 11,47% dari modal yang telah dikeluarkannya.
Bahwa sampai dengan kuartal III tahun 2018 (bulan September 2018), ekuitas (modal bersih) PTBA meningkat menjadi Rp14.921.935.000.000 sehingga nilai buku (book value) PTBA menjadi Rp1.295,23. Liabilitas (kewajiban/utang) turun menjadi Rp7.548.437.000.000 sehingga kewajiban/utang yang melekat pada setiap lembar saham turun menjadi Rp655,21. Aset PTBA Rp22.470.372.000.000 sehingga nilai aset yang melekat pada setiap lembar saham PTBA menjadi Rp1.950,44.
Laba bersih telah mencapai Rp3.929.899.000.000, sehingga laba bersih yang melekat pada setiap lembar saham (earning per share) atau EPS Rp341,12. Rasio laba bersih terhadap ekuitas (return of equity) atau ROE setara dengan 26,34%, dan rasio laba bersih terhadap modal kotor (aset) atau ROA setara dengan 17,49%. Kinerja usaha PTBA tetap bagus, masih tetap lebih tinggi dibandingkan dengan bunga simpanan deposito di bank, mengingat angka capaian kinerja tersebut baru sembilan bulan, maka di akhir tahun 2018 tentu angka capaian kinerja usaha PTBA akan makin besar.
Bagaimana dengan kinerja investasi Ibu Ninoy setelah semblan bulan memiliki PTBA? Dengan EPS Rp341,12 maka keuntungan bersih yang didapatkan Ibu Ninoy adalah (Rp341,12 x 400.000 lembar) = Rp136.447.018,00 atau setara dengan 13,64% dari modal awal Rp1.000.000.000. Namun jika modal awal tersebut dikurangi dividen tunai yang telah diterima sebelumnya, maka prosentase keuntungan bersih yang didapat Ibu Ninoy adalah Rp136.477.018,00/885.332.800,00 atau setara dengan 15,41%. Bukankah itu bagus?
Sebagai pemilik, Ibu Ninoy ini tidak perlu repot mengurus perusahaannya (PTBA), sebab seluruh operasional perusahaan ditangani oleh dewan direksi yang telah ditunjuk dan ditetapkan oleh para pemilik PTBA (pemegang saham) dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Dengan memiliki PTBA, Ibu Ninoy mendapatkan keuntungan berupa; meningkatnya ekuitas dan menerima dividen selama menjadi pemilik PTBA (memegang saham PTBA), serta untung dari selisih lebih harga saham (capital gain) apabila pada suatu saat nanti Ibu Ninoy menjual (saham) PTBA.  
Saham bukan semata-mata hanya tentang saham. Ketika Ibu Ninoy membeli saham PTBA, artinya Ibu Ninoy telah membeli sebagian kepemilikan atas PTBA. Ibu Ninoy tidak membeli lembaran kertas yang dsebut saham. Ibu Ninoy membeli sebuah perusahaan, dalam hal ini perusahaan dimaksud adalah PTBA.
Dan karena hal tersebut, rencana ke depannya Ibu Ninoy akan kembali membeli saham PTBA sesuai dana yang tersedia supaya kepemilikannya atas PTBA makin meningkat, dengan harapan dividen yang diterimanya di masa senja hidupnya makin meningkat juga, bahkan mewariskan perusahaan (PTBA) kepada anak-anaknya.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

Catatan :
Bagaimana perhitungan untuk mengukur kinerja suatu investasi? Dengan dividen tunai yang yieldnya kadang hanya sekitar 2-3% apakah saham layak dijadikan sebagai sarana investasi? Bukankah lebih baik menyimpannya dalam bentuk deposito saja di bank dengan return 5% per tahun? Pertanyaan tersebut sering kali mengemuka di forum-forum saham. Untuk menjawab pertanyaa tersebut, kita bahas pada kesempatan lain di tulisan berikutnya. Dan tentu saja jawabannya akan membuat anda semakin tertarik dengan investasi (saham).

0 komentar