Search This Blog

Disclaimer

Saturday, November 10, 2018

Melihat ICBP (bagian satu dari dua tulisan)


MELIHAT ICBP
(bagian satu dari dua tulisan)

PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) didirikan pada tanggal 2 September 2009 dengan jumlah saham dasar sebanyak 15.000.000.000 lembar. Modal ditempatkan dan disetor penuh pada saat pendirian ICBP sebanyak 4.664.763.000 lembar dengan harga saham dasar Rp100/lembar sehingga ekuitas awal ICBP sejumlah Rp466.476.300.000. Pada saaat didirikan, pemegang seluruh saham ICBP adalah induk usahanya sendiri yaitu PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF).




Beberapa produk ICBP yang sudah sangat familiar di tengah-tengah masyarakat diantaranya yaitu mie instan kemasan merk Indomie yang bisa didapatkan konsumen dengan sangat mudah dan harganya yang sangat terjangkau. Selain mie instan, produk ICBP lainnya adalah bumbu dapur dan sejenisnya. 

Pada tanggal 7 Oktober 2010, ICBP melakukan Initial Public Offering (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) atau melakukan penawaran saham ke publik sebanyak 1.166.191.000 lembar setara dengan 20% dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh. Harga saham yang ditawarkan pada saat IPO sebesar Rp5.395/lembar, dengan demikian ICBP dapat tambahan modal baru hasil IPO sejumlah Rp6.291.600.445.000. Pasca IPO jumlah saham beredar ICBP menjadi sebanyak (4.664.763.000 lembar + 1.166.191.000 lembar) = 5.830.954.000 lembar dengan komposisi pemegang saham yaitu INDF sebesar 80% dan publik sebesar 20%.

Pada tanggal 26 Juli 2016 ICBP melakukan stock split saham dengan rasio 1 : 2, artinya setiap 1 lembar saham lama sebelum stock split ditukar menjadi 2 lembar saham baru setelah stock split, oleh karena itu jumlah saham beredar pasca stock split menjadi sebanyak (5.830.954.000 lembar x 2) = 11.661.908.000 lembar. Dari jumlah saham tersebut, INDF selaku induk ICBP mengempit sebanyak 9.329.526.000 lembar sedangkan publik sebanyak 2.332.382.000 lembar.

Nilai Buku/Book Value (BV) ICBP per Kuartal III-2018 (30 September 2018) sejumlah Rp1.880 sehingga ekuitasnya adalah sejumlah Rp21.924.387.040.000. Sementara itu pada saat yang sama liabilitas (kewajiban/utang) ICBP sejumlah Rp11.896.918.000.000 atau sebesar 54,26% terhadap ekuitasnya. Dengan demikian asset ICBP per Kuartal III-2018 (30 September 2018) sejumlah Rp33.821.305.040.000.

Harga ICBP pada penutupan hari terakhir bursa di Kuartal III-2018 yaitu tanggal 28 September 2018 sebesar Rp8.825/lembar, maka kapitalisasi pasar/market capital (MC) ICBP pada saat bersamaan adalah sejumlah Rp102.916.338.100.000.

Profil singkat struktur keuangan ICBP per Kuartal III-2018 (30 September 2018) adalah sebagai berikut :
a.  Asset (ekuitas + liabilitas)       : Rp33.821.305.040.000.
b.  Ekuitas (modal bersih)             : Rp21.924.387.040.000.
c.   Liablitas (kewajiban/utang)      : Rp11.896.918.000.000.
d.  Kapitalisasi Pasar                    : Rp102.916.338.100.000.

Data di atas memperlihatkan bahwa peningkatan ekuitas awal ICBP didirikan selama kurang lebih 9 tahun lalu sampai dengan Kuartal III-2018 tumbuh sebesar 4.600%, sedngkan asset tumbuh sebesar 7.150,38%.

Sekarang kita hitung, berapa lonjakan pertumbuhan (growth) kekayaan INDF di ICBP pada posisi tanggal 30 September 2018 berdasarkan asset, ekuitas dan kapitalisasi pasar dibanding dengan kekayaan INDF di ICBP pada saat didirikan.

Dengan total aset sejumlah Rp33.821.305.040.000 maka asset setiap lembar saham ICBP senilai Rp2.900,15/lembar, sehingga asset INDF di ICBP adalah sejumlah (Rp2.900,15 x 9.329.526.000 lembar) = Rp27.057.042.871.939,20. Setelah dikurangi dengan asset awal pada saat pendirian ICBP sejumlah Rp466.476.300.000, maka asset INDF di ICBP sejumlah Rp26.590.566.571.939,205, tumbuh sekitar 5.700,30% selama kurang lebih 9 tahun.

Namun perlu diingat bahwa asset itu terdiri dari dua komponen yaitu ekuitas dan liablitas (kewajiban/utang), oleh karena itu jika dipisahkan maka komposisi ekuitas dan liabilitas INDF di ICBP sebagai berikut :
a.  Ekuitas ICBP sejumlah Rp21.924.387.040.000 maka BV ICBP sebesar Rp1.880/lembar, sehingga kekayaan INDF di ICBP adalah sejumlah (Rp1.880 x 9.329.526.000 lembar) = Rp17.539.508.880.000. Kemudian setelah dikurangi dengan modal awal pada saat pendirian ICBP sejumlah Rp466.476.300.000, maka modal bersih INDF di ICBP berdasarkan ekuitas adalah sejumlah Rp17.073.032.580.000, tumbuh sekitar 3.660% selama kurang lebih 9 tahun.
b. Total Liabilitas ICBP sejumlah Rp11.896.918.000.000 maka liabilitas ICBP sebesar Rp1.020,15/lembar, sehingga liabilitas INDF di ICBP adalah sejumlah (Rp1.020,15 x 9.329.526.000 lembar) = Rp9.517.533.991.939,23. Dengan demikian maka pada saat ICBP dinyatakan default kemudian pailit, maka ekuitas INDF di ICBP tersisa sejumlah (Rp1.880 – Rp1.020,15 x 9.329.526.000 lembar) = Rp8.021.974.888.060,77, kondisi tersebut bisa dikatakan “masih sangat sehat”, dalam artian bahwa saat ICBP dinyatakan bangkrut (tutup) sekali pun INDF tidak perlu menanggung utang. Bahkan jika dikurangi dengan modal awal yang ditempatkan di ICBP, ekuitasnya masih tumbuh sejumlah (Rp8.021.974.888.060,77 - Rp466.476.300.000) = Rp7.555.498.588.060,77.

Pada harga saat penutupan hari terakhir bursa pada Kuartal III-2018 yaitu tanggal 28 September 2018 harga saham ICBP sebesar Rp8.900/lembar, maka kekayaan INDF di ICBP adalah sejumlah (9.329.526.000 lembar x Rp8.900) = Rp83.032.781.400.000. Setelah dikurangi modal awal pada saat ICBP didirikan sebesar Rp466.476.300.000, maka kekayaan INDF di ICBP berdasarkan kapitalisasi pasar adalah sejumlah Rp82.566.305.100.000, tumbuh sebesar 17.700% selama kurang lebih 9 tahun.

Tentu saja ICBP adalah super company bagi INDF selaku pendiri. Bagaimana jika dilihat dari sudut pandang investor saham (publik)?. Karena sudut pandangnya dari kacamata investor saham, maka kita hanya akan menghitungnya berdasarkan kapitalisasi market.

Untuk melihat ICBP dari sudut pandang investro saham, kita akan bahas pada kesempatan selanjutnya.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

#Disclaimer on
By : @andirerei

Monday, November 5, 2018

Laundry


LAUNDRY

Pria berusia sekitar 40 tahun itu sudah sejak lama membuka usaha berupa jasa pencucian pakaian (laundry). Bersama-sama dengan istrinya dia punya beberapa gerai laundry di berbagai lokasi, dan salah satu gerai-nya itu terletak di tepi jalan raya sebuah kelurahan di Kota Bogor.

Meski lokasinya hanya terletak di tepi jalan raya sebuah kelurahan, namun ternyata laundry yang dikelolanya biasa mendapatkan order cucian rata-rata sebanyak 80 kg/hari. Dengan tarif cuci Rp7.000/kg, maka omzet yang dia dapatkan sejumlah Rp560.000/hari, atau dalam sebulan (30 hari) sebanyak 2.400 kg senilai Rp16.800.000. 

Dan karena hal itu cukup menarik (untuk dianalisa), maka hayuk kita urai di sini. Siapa tahu ada salah satu dari kita yang hendak mencobanya sebagai usaha tambahan untuk menutupi defisit neraca bulanan (rumah tangga) hehe........ ;

A.  Belanja Modal
1.  SIUP dan TDP dari Disperindag 1 kali                          : gratis (seharusnya)
2.  Mesin cuci kapasitas 8 kg 3 unit @Rp5.500.000            : Rp16.500.000.
3.  Mesin pengering kapasitas 8 kg 1 unit @Rp5.500.000   : Rp5.500.000.
4.  Setrika 2 unit @Rp250.000                                        : Rp500.000.
5.  Timbangan digital 1 unit @Rp250.000                         : Rp250.000.
6.  Neon box reklame 1 unit @Rp500.000                        : Rp500.000.
7.  Ember, rak pakaian, hanger, meja setrika, dan lain-lain : Rp2.500.000.
8.  Cetak brosur/pamflet promosi                                     : Rp250.000.
9.  Sewa tempat/ruko 1 tahun                                         : Rp30.000.000.
Jumlah                                                                     : Rp56.000.000.

B.  Belanja Kegiatan Bulanan
1.  Listrik PLN                                                                : Rp1.500.000.
2.  Air PDAM                                                                : Rp600.000.
3.  Detergen, pewangi, pelembut,                                    : Rp1.000.000.
4.  Gaji pegawai 1 orang                                                 : Rp2.500.000.
5.  Upah setrika 2.400 kg @Rp1.000                               : Rp2.400.000.
Jumlah                                                                     : Rp8.000.000.

C.  Revenue Bulanan
2.400 kg cucian @Rp7.000                                            : Rp16.800.000.

Dengan merujuk angka-angka hitungan di atas, maka pendapatan bersih yang diraih sejumlah (Rp16.800.000 – Rp8.000.000) = Rp8.800.000/bulan, sehingga dalam setahun bisa mencapai sejumlah (12 bulan x Rp8.800.000) = Rp105.600.000.

Dan karena belanja modal kita sejumlah Rp56.000.000, maka keuntungan bersih yang diraih pada tahun pertama sejumlah (Rp105.600.000 – Rp56.000.000) = Rp49.600.000, atau Rp4.133.333/bulan. Apakah angka keuntungan sejumlah itu terbilang besar/kecil/cukup/kurang, tentu saja relatif.
Lalu bagaimana dengan tahun kedua, berapa keuntungan bersih yang bisa didapat? Pada tahun kedua ini kita tidak lagi belanja mesin dan peralatan lainnya karena kondisi mesin adan peralatan lainnya yang dibeli tahun sebelunya masih bagus, sehingga belanja modal kita hanya berupa sewa tempat/ruko saja sejumlah Rp30.000.000.

Dan karena itu pula maka hitungan keuntungan bersihnya pun jadi begini :

A.  Belanja Modal
Sewa tempat/ruko 1 tahun                                             : Rp30.000.000.

B.  Belanja Kegiatan Bulanan
1.  Listrik PLN                                                                : Rp1.500.000.
2.  Air PDAM                                                                : Rp600.000.
3.  Detergen, pewangi, pelembut,                                    : Rp1.000.000.
4.  Gaji pegawai 1 orang                                                 : Rp2.500.000.
5.  Upah setrika 2.400 kg @Rp1.000                               : Rp2.400.000.
Jumlah                                                                     : Rp8.000.000.

C.  Revenue Bulanan
2.400 kg cucian @Rp7.000                                            : Rp16.800.000

Pendapatan bersih yang didapat masih tetap sejumlah (Rp16.800.000 – Rp8.000.000) = Rp8.800.000/bulan, atau Rp105.600.000/tahun. Namun karena belanja modal tahun kedua ini hanya sejumlah Rp30.000.000, maka keuntungan bersih yang didapat mengalami kenaikan menjadi sejumlah (Rp105.600.000 – Rp30.000.000) = Rp75.600.000/tahun, atau Rp6.300.000/bulan.

O yah........jika kita ingin dapat keuntungan bersih bulanan/tahunan lebih banyak, ya tingkatkan saja kapasitas cuciannya, jangan hanya 80 kg/hari. usahakan bisa mencapai 200 kg/hari atau bahkan lebih. Dan itu bisa dicapai jika kita membukanya di lokasi yang tepat, misalnya di dekat komple perumahanyang padat penduduk (lebih baik lagi kalau penduduknya malas nyuci sendiri di rumah), atau di dekat kampus perguruan tinggi.

Boleh percaya boleh tidak, namun jika kita memang punya dana idle sekitar Rp60an juta, daripada disimpan di bank dengan return yang tidak seberapa, lebih baik dipakai untuk mencoba usaha jasa laundry.

Begitu pun, jika kita berniat kuat untuk mencobanya namun ternyata belum punya modal, maka datanglah ke “KOPKAR” tempat kita kerja, utarakan maksud kita, insya alloh kalau dana hanya segitu mah diproses segera, biasanya bisa cair tidak sampai seminggu lamanya, tanpa jaminan pula.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

#Disclaimer on
By; @andirerei

Saturday, November 3, 2018

Distribusi Manfaat (Ekonomi) Hutan

DISTRIBUSI MANFAAT (EKONOMI) HUTAN


Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 berbunyi bahwa; ”bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”.

Bahwa hutan sebagai salah satu kekayaan alam Indonesia sepenuhnya dikuasai oleh Negara yang kemudian dipergunakan untuk terwujudnya kemakmuran rakyat. Dalam hal ini negara hanya menguasai, bukan memiliki, karena pemilik hutan sesungguhnya adalah setiap rakyat Indonesia, dan setiap individu rakyat Indonesia berhak atas manfaat yang diperoleh dari hutan.

Negara cq. Pemerintah hanya mengatur tata cara pemanfaatan hutan oleh setiap rakyat Indonesia, baik itu korporasi, komunal, maupun individual, yang mana fungsi pengaturan itu orientasinya berpihak pada kepentingan umum setiap rakyat Indonesia.

Melalui wakil-wakilnya di parlemen, setiap rakyat Indonesia telah sepakat (dituangkan dalam bentuk UU) bahwa setiap manfaat yang diperoleh dari hutan, wajib didistribusikan kembali oleh Negara cq. Pemerintah kepada setiap individu rakyat Indonesia yang hidup di seluruh wilayah negara.





Bahwa distribusi manfaat (ekonomi) yang diperoleh dari hutan telah diatur oleh Negara cq. Pemerintah (dalam bentuk PP, Peraturan Menteri, dll) dengan proporsi distribusi manfaat sebagaimana data pada Tabel Skema Dana Bagi Hasil (DBH) Sumber Daya Alam di atas.

Pada saat areal kawasan hutan tertentu dimanfaatkan secara ekonomi oleh suatu unit usaha pemanfaatan, maka unit usaha pemanfaatan wajib mendapatkan “restu” dari seluruh rakyat Indonesia melalui Negara cq. Pemerintah dalam bentuk izin usaha pemanfaatan.

Untuk mendapatkan “restu” ini, unit usaha pemanfaatan wajib membayar sejumlah dana (iuran) kepada seluruh rakyat Indonesia melalui Negara cq. Pemerintah, yaitu iuran izin (IIUPH) atas setiap luas areal kawasan hutan tertentu yang dimanfaatkan selama periode waktu tertentu.

Distribusi manfaat ekonomi yang diperoleh dari hutan di suatu daerah (misalnya di Kabupaten Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur) tentu tidak hanya dirasakan oleh rakyat Indonesia yang berdomisili di wilayah Kabupaten Kutai Barat, melainkan dapat dirasakan pula oleh rakyat Indonesia lainnya di seluruh wilayah negara.

Atas pemanfaatan areal kawasan hutan secara ekonomi di wilayah Kabupaten Kutai Barat, rakyat Indonesia yang tinggal di wilayah Kabupaten Kutai Barat memperoleh manfaat ekonomi berupa IIUPH sebesar 64%, yang diterima melalui Pemerintah Kabupaten Kutai Barat, dan kemudian didistribusikan dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana fisik maupun non fisik yang dibutuhkan rakyat di wilayah Kabupaten Kutai Barat.

Rakyat Indonesia lainnya di Provinsi Kalimantan Timur yang berdomisili dan hidup di luar wilayah Kabupaten Kutai Barat, juga memperoleh manfaat ekonomi sebesar 16% dari seluruh IIUPH yang dipungut, yang penerimaannya melalui Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, dan kemudian didistribusikan dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana fisik maupun non fisik yang dibutuhkan rakyat di wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

Rakyat Indonesia yang tinggal di luar wilayah Provinsi Kalimantan Timur (misalnya di Provinsi Sumatera Barat, Jawa Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat, Papua Barat, dll), juga memperoleh manfaat ekonomi akibat pemanfaatan hutan di Kabupaten Kutai Barat yaitu sebesar 20% dari seluruh IIUPH yang dipungut, yang penerimaannya melalui Pemerintah Pusat, dan kemudian didistribusikan dalam bentuk pelayanan atau dalam bentuk lainnya yang bersentuhan dengan kepentingan rakyat Indonesia yang hidup di seluruh wilayah negara.

Kemudian, atas hasil hutan yang dipungut dan dimanfaatakan, unit usaha pemanfaatan berkewajiban mengganti nilai intrinsiknya (PSDH) dan dibayarkan kepada seluruh rakyat Indonesia melalui Negara cq. Pemerintah, proporsi distribusinya adalah :

Rakyat Indonesia yang hidup di wilayah Kabupaten Kutai Barat menerima sebesar 32%, rakyat Indonesia lainnya di Provinsi Kalimantan Timur yang berdomisili dan hidup di luar wilayah Kabupaten Kutai Barat menerima sebesar 32%, dan rakyat Indonesia lainnya yang tinggal di luar wilayah Provinsi Kalimantan Timur menerima sebesar 20% dari seluruh PSDH yang dipungut.


Bahwa manfaat yang diperoleh dari hutan harus tetap dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia secara berkelanjutan (lestari), maka struktur vegetasi hutan yang berubah setelah adanya kegiatan pemanfaatan secara ekonomi oleh suatu unit pemanfaatan perlu dilakukan re-vegatasi. Oleh karena itu, unit usaha pemanfaatan wajib membayar dana re-vegetasi berupa Dana Reboisasi (DR) kepada seluruh rakyat Indonesia.

Rakyat Indonesia yang tinggal di Kabupaten Kutai Barat memperoleh dana re-vegetasi sebesar 40% yang diterima melalui Pemerintah Kabupaten Kutai Barat. Rakyat Indonesia yang tinggal di luar wilayah Kabupaten Kutai Barat memperoleh dana re-vegetasi sebesar 60% yang diterima melalui Pemerintah Pusat, dan kemudian seluruhnya digunakan dalam pembiayaan berbagai program re-vegetasi hutan.

Sampai di sini, distribusi manfaat (ekonomi) yang diperoleh dari hutan bagi seluruh rakyat Indonesia cukup jelas dan proporsional. Pertanyaan berikutnya adalah, mengapa saat ini masih terjadi konflik antara kelompok masyarakat yang hidup di dalam dan di sekitar hutan dengan unit usaha pemanfaatan?

to be continues ................ kita ngobrol di hari libur berikutnya.   

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat, dan selamat datang hari senin.


#Disclaimer on

By: @andirerei


























































Wednesday, August 22, 2018

Memperoleh Dengan (cara) Memberi


MEMPEROLEH DENGAN (CARA) MEMBERI


Barangsiapa membawa amal baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (QS. Al-An’am; 160).

Pak Ikhlas memperoleh pendapatan (uang) setiap bulan sebesar Rp10 juta, dan setiap bulan pula dikeluarkan Rp1 juta untuk infak/sedekah kepada orang-orang yang kurang mampu (layak dibantu) di sekitar tempat tinggalnya, sehingga pendapatan sisa yang diterima Pak Ikhlas setiap bulan hanya sebesar Rp9 juta, atau dalam setahun hanya sebesar Rp9 juta x 12 bulan = Rp108 juta.

Begitu pun Pak Kedekut, memperoleh pendapatan setiap bulan sebesar Rp10 juta, sama dengan Pak Ikhlas, namun Pak Kedekut ini sama sekali tidak penah mengeluarkan infak/sedekah, sehingga pendapatan yang diterima Pak Kedekut setiap bulan tidak berkurang sedikit pun, tetap utuh sebesar Rp10 juta, atau dalam setahun sebesar Rp10 juta x 12 bulan = Rp120 juta.

Dari uraian di atas tampak bahwa pendapatan yang diterima oleh Pak Kedekut dalam setahun lebih banyak Rp12 juta jika dibandingkan dengan pendapatan yang diterima oleh oleh Pak Ikhlas. Namun apakah benar demikian?

Berdasarkan QS. 6;160 di atas, Alloh menjanjikan balasan 10 kali lipat atas perbuatan (amal) baik yang kita lakukan. Oeh karena itu kita hitung kembali besar pendapatan yang diperoleh Pak Ikhlas dan Pak Kedekut dalam 1 (satu) tahun.  Let’s see :

Pak Kedekut rutin infak/sedekah sebesar Rp1 juta setiap bulan, dan Alloh membalasnya 10 kali lipat, maka pendapatan yang diperoleh Pak Ikhlas setiap bulan sesunguhnya bukan Rp9 juta, melainkan sebesar Rp10 juta - Rp1 juta + (Rp1 juta x 10) = Rp19 juta, sehingga pendapatan yang diperoleh Pak Ikhlas dalam 1 tahun adalah sebesar Rp19 juta x 12 bulan = Rp228 juta.

Pak Kedekut yang tidak pernah infak/sedekah, dan Alloh tidak memberikan balasan infak/sedekah kepada Pak Kedekut, maka pendapatan yang diperoleh Pak Kedekut setiap bulan adalah tetap Rp10 Juta yaitu Rp10 juta – Rp0 + (Rp0 x 10) = Rp10 juta, sehingga pendapatan yang diperoleh Pak Kedekut dalam 1 tahun hanya sebesar Rp10 juta x 12 bulan = Rp120 juta.

Dengan demikian, atas infak/sedekah yang dikeluarkan, pada akhirnya membuat Pak Ikhlas menerima lebih banyak Rp108 juta jika dibandingkan dengan yang diterima oleh Pak Kedekut.

Lantas apakah Pak Ikhlas menerimanya dalam bentuk cash? Belum tentu. Bisa saja dalam bentuk lain, misalnya Pak Ikhlas yang tadinya ditakdirkan sakit dan hanya bisa sembuh jika berobat ke dokter dengan biaya yang mesti dikeluarkan sebesar Rp108 juta, ternyata sakitnya tidak jadi karena infak/sedekah itu.

Tapi apakah mungkin Pak Ikhlas mendapatkannya dalam bentuk cash? Bisa saja, misalnya entah dari mana dan bagaimana ceritanya tiba-tiba saja Pak Ikhlas dapat pekerjaan/usaha yang nilai keuntungannya mencapai Rp108 juta.

Bahkan keuntungan dari infak/sedekah itu bisa dalam bentuk-bentuk lainnya yang tidak kita sadari.

Bagaimana kalau setelah dirasa-rasa ternyata kita belum juga merasa dapat balasan sebagaimana contoh di atas atas infak/sedekah kita? Itu adalah ujian, seberapa besar keimanan kita terhadap firmanNya. Kenapa disebut ujian? Karena Alloh pasti menepati janjinya. Jika kita belum mendapatkan balasannya di dunia, maka dipastikan balasannya akan kita dapat di akhirat nanti (setelah mati).
 
Kemudian jika ternyata kita tidak cukup punya uang untuk berinfak/bersedekah karena untuk menutupi kebutuhan hidup bulanan saja tidak cukup, bahkan masih ngutang sana-sini? Maka berinfak/bersedekah lah dalam bentuk yang lain, misalnya; berlaku adil diantara dua orang, bertutur kata baik dan lemah lembut, bahkan membantu menyeberangkan seorang nenek tua yang sedang susah payah menyebrang di jalan raya, itu pun bentuk lain dari sedekah.

Dan itulah, filosopi memperoleh dengan cara memberi. Meskipun berat, bahkan sangat berat, tapi kita mesti membiasakannya, mudah-mudahan menggenapi dan menyempurnakan hidup kita.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

#Disclaimer on
By: @andirerei




Tuesday, May 1, 2018

Arus Kas


ARUS KAS (CASH FLOW)

Dalam transaksi keuangan sebuah unit bisnis, yaitu pembelian, penjualan, pembayaran macam-macam biaya, maka idealnya dilakukan secara tunai (cash), sehingga arus kas (cash flow) akan sama persis dengan nilai keuntungan atau kerugian yang didapat oleh sebuah bisnis. Namun dalam sebuah bisnis yang kompleks dan berskala besar hal tersebut kadang sulit terwujud sepenuhnya, sehingga tak terhindarkan lagi adanya hutang dan piutang.

Bahwa dalam proses penyusunan laporan keuangan suatu unit bisnis, profit adalah salah satu unsur penting yang sering diperhatikan, yang didapat dari perhitungan hasil penjualan barang/jasa dikurangi harga pokok penjualan, biaya produksi, biaya operasional, dan biaya-biaya lainnya.

Dalam realitanya, profit ini didapat tidak hanya berasal dari penjualan secara tunai saja, tetapi tidak jarang didapat juga dari penjualan secara kredit. Hal ini yang membuat kita kadang terkecoh dalam membaca suatu laporan keuangan. Bahwa suatu unit bisnis membukukan angka profit yang tinggi, namun saldo kas perusahaan malah rendah atau bahkan negatif, sehingga pemilik unit bisnis tidak dapat menikmati hasil keuntungannya saat itu juga.

Cash flow adalah aliran kas masuk dan kas keluar. Apabila kas masuk lebih besar dari kas keluar, maka terjadi cash flow positif/surplus, dan sebaliknya jika kas masuk lebih kecil dari kas keluar, maka terjadi cash flow negatif/defisit.

Kas masuk berasal dari penerimaan penjualan tunai, penerimaan pelunasan piutang, dan penerimaan pinjaman. Kas keluar terdiri dari pengeluaran biaya kegiatan unit bisnis antara lain pembayaran kepada supplier, pembayaran pajak, pembayaran angsuran pengembalian pinjaman, pengeluaran biaya operasi, dan biaya-biaya lainya.

Tidak jarang terjadi suatu unit bisnis membukuan angka profit yang tinggi namun ternyata didapat lebih banyak dalam bentuk piutang (apalagi piutang yang macet) sehingga mengakibatkan saldo kas rendah atau bahkan minus, maka hal ini akan mengakibatkan cash flow perusahaan tergganggu dan menjadi masalah, karena tetap dibutuhkan dana tunai/cash untuk menjalankan kegiatan operasional suatu bisnis.

Begitu juga sebaliknya, bisa terjadi suatu unit bisnis mempunyai cash flow positif, namun kas tersebut bukan berasal dari operasional usaha melainkan misalnya saja berasal dari penyertaan tambahan modal baru, maka hal ini pun tetap menjadi masalah, karena pada dasarnya unit bisnis tersebut mengalami kerugian sebab tidak berasal dari pemasukan pendapatan operasional usaha, sedangkan biaya operasional dan non operasional tetap. Jika hal tersebut di atas sering terjadi, tentunya akan sangat berbahaya bagi perkembangan dan kelangsungan suatu unit bisnis.
  
Dengan demikian, antara profit dengan cash flow, manakah yang lebih penting? Begini, meski profit rendah atau bahkan kegiatan usaha suatu unit bisnis sedang merugi, namun jika tersedia cukup cash, maka bisnis masih bisa jalan dan kemudian tinggal merencanakan strategi baru untuk meningkatkan profit pada pereode berikutnya. Di sisi lain, jika suatu unit bisnis membukukan angka profit yang tinggi, tetapi tidak ada dana cash, maka cash flow unit bisnis pasti terganggu, bahkan bisa mengakibatkan saat itu juga kegiatan usaha unit bisnis terhenti.

Namun demikian, sebaiknya profit dan cash flow digunakan sebagai bahan anaisis secara bersamaan, karena pada dasarnya keduanya merupakan suatu kesatuan sistem dalam menentukan kuat dan berkembangnya suatu bisnis.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

#Disclaimer on
By @andirerei

Sunday, April 15, 2018

Merencanakan Usaha


MERENCANAKAN USAHA


Dengan ukuran standard tertentu, pengeluaran biaya untuk memenuhi kebutuhan rutin rumah tangga kita saat ini setelah dhitung-hitung misalnya sejumlah Rp12 juta per bulan. Sementara pendapatan yang kita terima dari berbagai sumber hanya Rp7 juta per bulan. Maka untuk memenuhi kebutuhan standard tertentu tadi kita masih kekurangan sejumlah Rp5 juta per bulan.


Untuk menutupinya, misalnya kita berencana membuka suatu usaha (jualan produk barang/jasa tertentu). Karenanya kita bisa membuat beberapa formulasi hitungan, diantaranya :

a.  Kondisi Pertama
Jika saat ini kita sama sekali belum punya modal, maka targetkanlah keuntungan bersih yang harus kita capai yaitu 10%, sehingga modal usaha yang mesti disediakan minimal sejumlah Rp50 juta.  

b.  Kondisi Kedua
Jika ternyata hasil survey kecil-kecilan kita menemukan peluang kuntungan bersih hanya sebesar 5%, maka modal usaha yang mesti disediakan minimal sejumlah Rp100 juta.

Fokus utama pada kondisi pertama yaitu pencapaian target keuntungan. Kita mesti kerja lebih keras (juga cerdas), pokoknya dalam kondisi apa pun, kita mesti dapat untung 10% dengan menjual produk sebanyak-banyaknya dan se-sering mungkin.

Fokus utama pada kondisi kedua yaitu ketersediaan modal usaha yang lebih besar daripada kondisi pertama. Karena kita sudah punya data pasar hasil survey bahwa peluang keuntungan yang sudah tersedia di pasar sebesar 5%, meski hal tersebut bukan jaminan, tapi di sini kita agak lebih santai dalam menjual namun harus lebih kerja keras mencari modal awal.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana jika saat ini kita sudah punya modal Rp20 juta, mana yang mesti diplih? formulasi pertama atau formulasi kedua? diantara kedua formulasi itu mana yang lebih baik?

Jika kita berjiwa petarung, maka pilihlah formulasi pertama. Bahkan jika kita kita benar-benar fight, mulai saja dengan modal Rp20 juta itu, nggak usah tambah modal jadi Rp50 juta, tapi tentu saja dengan konsekwensi keuntungan yang mesti diraih sebesar 25%.

Jika kita ingin lebih santai, formulasi kedua lebih cocok. Tapi ya itu tadi, mesti tersedia modal awal lebih banyak. Meski repot di awal dalam menyediakan modal, tapi kita akan lebih santai dalam melakukan penjualan.

Ada pendapat lain? kindly give your opinion here !

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.


#Disclaimer on
By; @andirerei