Thursday, April 9, 2020

Defensif Di Tengah Corona

DEFENSIF DI TENGAH CORONA

Bahwa saat ini kondisi perekonomian global masih terus dibayangi dengan ketidakpastian. Lembaga keuangan dunia Dana Moneter Internasional (IMF) telah memangkas proyeksi angka pertumbuhan global periode tahun 2020 menjadi hanya sebesar 3,3% saja. Sebabnya yaitu; perang dagang antara Amerika Serikat dan China, ditambah adanya perang harga minyak mentah antara Arab Saudi dan Rusia, serta yang terkini adalah pandemic virus corona (COVID-19) di seluruh dunia. Meski Amerika Serikat dan China telah menandatangani kesepakatan dagang pada pertengahan Januari 2020 yang lalu, tetapi perang dagang antara kedua Negara kekuatan ekonomi dunia tersebut belum sepenuhnya reda. Pelaku pasar masih mencermati realisasi atas kesepakatan dagang diantara keduanya.

Sementara itu perang harga minyak mentah antara Arab Saudi dan Rusia telah membuat harga minyak mentah dunia mengalami kejatuhan terendah dalam beberapa dekade terakhir. Kemudian yang tidak kalah “ganas”, yaitu pandemic virus corona (COVID-19), juga 'menginfeksi' pasar di seluruh dunia. Penyebaran wabah virus mematikan ini telah mengganggu aktivitas perekonomian global. Bagaimana tidak, saat ini banyak kota di dunia menutup diri, kegiatan industry terhenti, bahkan beberapa industry diantaranya telah tutup dan melakukan pemutusan hubungan kerja, kegiatan eksport-impor tergganggu, yang kesemuanya itu akan membuat pertumbuhan ekonomi global terkoreksi. COVID-19 telah berefek langsung dan telah benar-benar merusak kondisi fundamental perekonomian global. Akibatnya, dengan kondisi yang tidak menentu tersebut, pasar domestik, regional, maupun global mengalami volatile yang ekstrim.


gambar; andirerei.com

Bahwa saat ini ada sekitar tujuh ratus dua belas emiten atau perusahaan berstatus Terbuka yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang saham-sahamnya diperjualbelikan pada setiap hari bursa. Berbagai perusahaan tersebut dikelompokan ke dalam sembilan sektor industry yaitu; pertanian, pertambangan, industri dasar, aneka industri, barang konsumsi, properti dan konstruksi, infrastruktur, keuangan, perdagangan dan jasa. Penyebaran wabah COVID-19 yang membuat kondisi perkonomian penuh ketidakpastian tentu saja akan mempengaruhi kinerja usaha masing-masing sektor industry, baik pada saat ini maupun untuk beberapa waktu ke depan, yang pada akhirnya akan berkorelasi dengan terjadinya penurunan harga saham perusahaan yang ada di dalamnya.



Pengaruh buruk tersebut tampak nyata dengan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dari level Rp6.000an ke level Rp3.900an dalam tiga bulan terkahir di awal tahun 2020. Harga-harga saham di seluruh sector di BEI mengalami penurunan yang signifikan. Artinya para pelaku pasar sedang pesimis memandang kondisi perekonomian yang sedang dan akan terjadi, pesimis dengan prospek pertumbuhan ekonomi domestic maupun global, sehingga untuk sementara mereka menarik sebagian besar dananya dari bursa saham.

Hal tersebut bisa difahami karena memang kegiatan operasional sebagian besar sector industry saat ini sedang tidak normal. Sebut saja misalnya sektor keuangan (perbankan). Penyaluran kredit oleh bank menjadi mandek, karena kegiatan usaha debitur di sector lainnya sedang terhenti. Belum lagi ada resiko kredit macet atas sejumlah dana pinjaman yang telah digelontorkan sebelumnya. Begitu juga dengan sector pertanian yang basis produknya crude palm oil (CPO) yang pasar eksportnya China dan India, di mana kedua negara tersebut ekonominya kini mandek karena industrinya sedang terhenti akibat serangan COVID-19. Akibatnya permintaan CPO turun drastis.

Pada sector pertambangan, dengan penyebaran wabah COVID-19 di China dan India yang begitu meluas, membuat industry di kedua negara menghentikan kegiatannya, padahal kedua Negara tersebut merupakan importir besar batubara dunia. Dengan kondisi demikian maka sector pertambangan sangat terpengaruh, dan produsen batubara di tanah air tentu saja kena dampaknya. Sector industry dasar pun demikian, proyek pembangunan infrastruktur dan utilitas untuk sementara dihentikan, oleh karena itu industry pengolahan logam, keramik, semen, pemasarannya terganggu. Belum lagi jika produknya yang terkait dengan kebutuhan bahan baku sektor property yang kondisinya makin lesu misalnya semen dan besi/baja volume pemasarannya dapat dipastikan menurun.

Dalam kondisi ekonomi yang sulit seperti saat ini, tentu saja masyarakat lebih mendahulukan pemenuhan kebutuhan primer dibanding kebutuhan sekunder, oleh karena itu produsen pada sector aneka industry misalnya otomotif dan komponennya, juga elektonik, pasti akan terdampak. Volume penjualan produknya dipastikan menurun. Begitu pun sector industry property, dipastikan menurun, karena masyarakat lebih mendahulukan belanja kebutuhan hidup sehari-hari dibanding misalnya membeli rumah. Oleh karena itu produsen pada sector ini dipastikan mengalami penurunan kinerja usahanya.

Dalam upaya mencegah penyebaran pandemic COVID-19 makin meluas, Pemerintah telah merealokasi Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) dengan memindahkan alokasi sebagian anggaran pembangunan infrastruktur menjadi anggaran untuk penanganan wabah COVID-19. Oleh karena itu kinerja sector infrastruktur ini pasti akan terkoreksi. Begitu juga pada sector perdagangan, wabah COVID-19 telah membuat kegiatan ekspor-impor barang dan distribusinya terganggu. Setali tiga uang, sub sektor pariwisata dan perhotelan pun demikian. Dengan adanya kekhawatiran orang terpapar COVID-19, perjalanan wisata dan kegiatan lain di luar rumah tidak dilakukan, maka kinerja perusahaan pada sector ini dipastikan anjlok.

Fundamental delapan sector industry di BEI tersebut di atas telah terganggu dan dan diprediksi akan menurunkan kinerja perusahaan-perusahaan yang ada di dalamnya. Butuh waktu untuk pemulihan (recovery) kembali ke kondisi normal seperti sebelum meluasnya wabah COVID-19. Namun demikian ada satu sector industry yang masih akan tetap mencatatkan kinerja usaha yang positif di tengah-tengah lesunya perekonomian saat ini, yaitu sector konsumsi. Pada kondisi yang terjadi sekarang, masyarakat akan mengenyampingkan belanja kebutuhan yang tidak mendesak misalnya membeli kendaraan atau membeli rumah, tetapi tidak bisa mengenyampingkan kebutuhan hidup sehari-hari, masyarakat harus tetap makan dan minum. Oleh karena itu perusahaan yang bergerak dalam bidang makanan, minuman, toiletris, atau obat-obatan, produknya akan tetap dibeli masyarakat.

Fakta lain menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini sebagian besar ditopang oleh konsumsi masyarakat. Maka tidak heran, jika perusahaan-perusahaan di sektor ini tergolong defensive dalam kondisi apa pun. Perusahaan-perusahaan pada sektor konsumsi ini diuntungkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak sebagai konsumen. Kondisi fundamental perusahaan di sector konsumsi ini akan tetap terjaga, dan akan lebih baik daripada fundamental delapan sector industry lainnya.

Dengan guncangan ekonomi seperti sekarang, bukan tidak mungkin harga saham-saham sector ini juga ikut turun (terdiskon). Namun, secara fundamental kinerja usahanya akan tetap bagus. Perusahaan semacam PT. Unilver Indonesia Tbk (UNVR), PT. Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT. Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT. Mayora Indah Tbk (MYOR), PT. Kalbe Farma Tbk (KLBF), dan PT. Kimia Farma Tbk (KAEF), meskipun di tengah-tengah penyebaran pandemic wabah COVID-19 volume penjualannya akan tetap terjaga dan akan mencatatkan kinerja usaha yang positif. Pada saatnya ketika kondisi pasar mulai berbalik arah membaik dan kemudian pulih, harga saham-saham perusahaan di sector defensif ini akan naik lebih cepat.

Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

0 komentar