Sunday, February 10, 2019

Gap Yaitu

GAP YAITU
Gambar : google image

Gap merupakan bilah kosong pada grafik (chart) pergerakan harga akibat tidak adanya transaksi pada area harga tertentu setelah pada hari tersebut terjadi lonjakan kenaikan harga atau penurunan harga yang melampaui range satuan pergerakan harga. Jika yang terjadi adalah lonjakan kenaikan harga maka biasa disebut gap up, dan apabila yang terjadi adalah penurunan harga dinamakan gap down. Baik gap up maupun gap down biasanya dibarengi dengan jumlah volume yang besar yang mendorong terjadinya kondisi gap up dan gap down tersebut.
Saham BBBB pada hari bursa sebelumnya ditutup pada harga Rp1.000, maka sesuai dengan besaran satuan kenaikan/penurunan harga perdagangan dalam regulasi BEI sebesar Rp5, pada hari bursa berjalan tersebut “seharusnya” saham BBBB dibuka naik pada harga Rp1.005 atau dibuka turun pada harga Rp995. Namun yang terjadi kemudian adalah pada pembukaan hari bursa berjalan tersebut saham BBB dibuka naik misalnya pada harga Rp1.050, maka terjadi gap up. Sebaliknya jika dibuka misalnya pada harga Rp950, maka terjadi gap down.
Biasanya gap up terjadi akibat optimisme yang tinggi dari para pelaku bursa terhadap saham BBBB pada hari itu akibat adanya sentimen positif berupa aksi korporasi yang diperkirakan akan berdampak terhadap peningkatan kinerja perusahaan, misalnya melakukan akuisi, atau adanya rilis laporan keuangan yang mana perolehan laba bersih periode berjalan meningkat signifikan.
Sementara itu gap down terjadi akibat psimisme pelaku bursa terhadap saham BBBB pada hari itu akibat adanya sentimen negatif yang diperkirakan akan berdampak buruk terhadap kinerja perusahaan, misalnya adanya rilis laporan keuangan yang mana perolehan laba bersih periode berjalan mengalami penurunan tajam. Contoh gap sebagaimana gambar di bawah ini :
Gambar : andirerei.com
Pada gambar di atas, area gap adalah daerah antara garis B dengan garis A (kotak merah). Garis B (batas gap atas) dan garis A (batas gap bawah) merupakan resistance dan/atau supprot bagi pergerakan harga selanjutnya. Pada saat terjadi gap down dan kemudian harga ditutup dengan penurunan sebagaimana gambar di atas, maka harga open pada hari itu (garis A) merupakan resistance pertama (R1) bagi pergerakan harga selanjutnya. Sedangkan harga penutupan hari sebelumnya sebelum terjadi gap down (garis B) merupakan resistance kedua (R2).
Pergerakan harga setelah terjadi gap down berada di bawah R1 dalam rentang waktu cukup lama dan harga bergerak cenderung datar (sideways). Pergerakan harga baru dapat menembus ke atas (breakout) R1 (garis A) baru terjadi pada 3 (tiga) candle (hari) terakhir. Garis A yang sebelumnya merupakan R1 kini telah berubah menjadi garis support. 
Peregerakan harga kini menuju R2 (garis B) dengan support garis A, dan apabila kemudian harga mampu breakout R2 (garis B) maka garis B tersebut akan berubah menjadi garis support bagi pergerakan harga selanjutnya.
Namun apakah garis A tersebut akan menjadi support yang kuat sehingga harga tidak kembali turun ke bawah garis A? kondisi tersebut dapat dikonfirmasi dengan berbagai indikator teknikal lainnya, misalnya dengan indikator volume atau indikator garis moving average.
Apabila breakout tersebut dibarengi dengan peningkatan jumlah volume yang besar (siginifikan) dari hari-hari sebelumnya, diperkirakan breakout tersebut benar-benar telah terjadi. Namun apabila breakout tersebut hanya dengan jumlah volume yang kecil, kondisi tersebut dikhawatirkan hanyalah false breakout, dan harga dapat kembali turun ke bawah R1 (garis A). Contoh untuk menguji kekuatan trend kenaikan harga dengan garis moving average dapat dilihat pada gambar di bawah ini :
Gambar : andirerei.com
Pada kotak merah gambar di atas tampak bahwa harga berada di atas garis moving average yang tersusun berurutan dari atas ke bawah dimulai dari moving average periode pendek hingga periode panjang. Kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa trend kenaikan harga mulai menguat untuk memulai trend naiknya menuju R2 (garis B). Namun untuk melihat seberapa kuat signal trend kenaikan tersebut, ada baiknya dikombinasikan dengan indikator volume atau indikator teknikal lainnya.
Pada saat terjadi gap anda dihadapkan pada dua pilihan, yaitu melakukan antisipasi atau menunggu konfirmasi. Keduanya menyesuaikan metoda trading dan profil resiko anda. Melakukan antisipasi artinya anda melakukan pembelian pada saat harga menyentuh garis A, anda melakukan pembelian pada saat harga “akan” menembus ke atas resistance (breakout). Kelebihan cara ini adalah potensi keuntungan yang dapat anda peroleh lebih besar jika harga benar-benar breakout. Kekurangannya adalah jika harga tidak jadi breakout (kembali turun), kondisi tersebut berpotensi menimbulkan kerugian bagi anda.
Menunggu konfirmasi artinya anda melakukan pembelian pada saat harga telah benar-benar breakout dari garis A. Pembelian anda lakukan pada saat harga “telah” berada di atas garis A. Kelemahan cara ini adalah jika setelah menembus resistance kemudian kenaikan harga terus berlanjut, maka potensi keuntungan yang dapat anda peroleh lebih kecil jika dibandingkan dengan ketika anda mengambil langkah melakukan antisipasi dimaksud di atas. Kelebihannya adalah jika harga ternyata tidak jadi menembus resistance (kembali turun), anda tidak akan mengalami kerugian karena anda belum melakukan pembelian.
Dalam analisis teknikal dikenal adanya 4 (empat) jenis atau klasifikasi gap sebagai berikut :
a.  Common Gap yaitu gap yang sering terjadi dan paling sering muncul dalam suatu pergerakan harga dalam trend naik maupun trend yang tidak didukung dengan volume yang signifikan sehingga tidak akan berdampak terhadap pembalikan arah pergerakan harga.
b.  Break Away Gap yaitu gap yang terjadi dalam trend naik atau trend turun yang didukung dengan volume signifikan sebagai signal kuat pembalikan arah trend dari bearish menjadi bullish atau dari bearish menjadi bullish. Dalam suatu trend naik kemudian terjadi gap down maka diperkirakan akan terjadi pembalikan arah harga dari bullish menajdi bearish, namun dalam suatu trend turun terjadi gap up diperkirakan arah trend akan berubah dari turun menjadi naik.
c.   Run Away Gap yaitu gap yang biasanya muncul di tengah trend naik atau trend turun yang sedang berlangsung dengan volume tinggi sebagai signal bahwa trend naik atau trend turun akan terus berlanjut.
d.  Exhaustion Gap yaitu gap yang terjadi pada saat trend naik sudah berlangsung cukup lama. Munculnya gap ini menandakan bahwa minat pelaku pasar sudah mulai berkurang dan itu merupakan tanda-tanda bahwa trend akan berbalik arah menjadi trend turun.
Populer di kalangan trader bahwa apabila sebuah gap down yang telah berhasil ditutup dengan candle naik yang didukung jumlah volume signifikan, diperkirakan harga akan melanjutkan trend naiknya sampai dengan titik resistance kuat berikutnya.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

0 komentar