Wednesday, March 13, 2019

Ihau dan Kapul

IHAU DAN KAPUL

Dalam kesempatan perjalanan ke Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Mahakam Ulu di Provinsi Kalimantan Timur, penulis menemukan dan mencicipi dua buah khas Pulau Kalimantan yaitu buah Ihau (Dimocarpus malesianus) dan buah Kapul (Beccaurea macrocarva). Nama jenis buah yang kedua bahkan disebut-sebut sebagai buah endemik wilayah Kutai Barat.
Setelah menempuh perjalanan sekitar sejauh 900 kilometer dengan rute Bogor – Jakarta dan dilanjut penerbangan Garuda Indonesia GA564 rute Jakarta (CGK) - Balikpapan (BPN) kemudian disambung dengan penerbangan perintis Express Air menggunakan pesawat jenis ATR-42 menuju Melak (MLK), penulis mencicipi buah Ihau saat berada di pelabuhan speedboat di Tering (Kutai Barat) sesaat sebelum menyusuri sungai Mahakam menuju Long Bagun di hulu sungai Mahakam yang terletak di Kabupaten Mahakam Ulu dengan menggunakan speedboat carteran.
Buah Ihau
Penduduk setempat menyebut buah Ihau sebagai buah Mata Kucing dan mereka menjualnya seharga Rp20.000,00 per kilogram. Sambil menikmati segelas kopi hitam panas di sebuah kedai di pelabuhan Tering, penulis mencecap buah Ihau ini bersama-sama dengan tiga orang teman seperjalanan penulis.
Buah Ihau
Rasanya manis dan kental, air buahnya agak lengket, tidak jauh beda dengan rasa buah Lengkeng (Dimocarpus longan) yang masih sesama kerabatnya buah Ihau. Yang membedakan keduanya adalah bahwa kulit buah Ihau lebih keras dan bergerigi sedangkan kulit buah Lengkeng lebih lunak dan halus.
Gambar : andirerei.com
Sekitar tiga puluh menit penulis berada di kedai kopi tersebut ambil mencecap beberapa butir buah Ihau, selanjutnya kami berenam melanjutkan perjalanan menuju Long Bagun di hulu Sungai Mahakam.
Gambar : andirerei.com
Dalam perjalanan air sekitar empat jam tersebut, kami menikmati suasana hijau vegetasi tegakan hutan yang masih rapat di sepanjang kanan-kiri sungai Mahakam. Kami bercerita mengenai berbagai hal tentang sungai Mahakam, namun saat kami berada di titik-titik tempat tertentu ketika signal 4G Telkomsel muncul di layar handphone, dengan segera kami pun semua menunduk, buka whatsapp, telegram, facebook, bahkan email.
Gambar : andirerei.com
Sekitar jam 13.30 WITA kami tiba di Long Bagun, saatnya kami beralih dari moda transportasi sungai berganti ke moda transportasi darat untuk melanjutkan perjalanan sejauh sekitar 152 kilometer lagi, dengan titik transit di kilometer 83. Namun sebelum dilanjut, di kilometer 0 (nol) Long Bagun ini kami tunaikan shalat dzuhur sekaligus shalat ashar (jama taqdim) dan santap siang terlebih dahulu.
Gambar : andirerei.com
Jalan yang kami lalui bukanlah jalan yang mulus beraspal, melainkan jalan angkutan kayu (logging) milik sebuah perusahaan kayu. Berbatu dan kadang berlubang serta berkelok-kelok melalui tanjakan dan turunan. Tampak vegetasi tegakan hutan yang masih bagus dan rapat serta terdengar berbagai macam suara hewan liar, suara burung dan serangga hutan (tonggeret).
Berada di tengah-tengah rimba belantara untuk suatu urusan pekerjaan selama empat hari, bahkan sampai memasuki hutan di wilayah Kabupaten Malinau di Provinsi Kalimantan Utara, kami makan dengan menu daging Payau (rusa) yang diolah sebagai gulai maupun gepuk (empal). Begitu pun menu wajib ketika berada di hutan yaitu indomie goreng atau rebus (ICBP.JK), tetap tersaji kala kami makan bareng.
Tiba waktu kembali pulang, kami balik kanan melalui jalan yang sama ketika perjalanan pergi. Pagi hari kami turun dari hutan di titik kilometer 152 menuju titik kilometer 0 (nol) Long Bagun dan tiba sekitar jam 15.00 WITA. Sebelum kembali berkendara di air sungai Mahakam, terlebih dahulu kami santap siang dengan dengan menu ayam kampung dan (lagi-lagi) indomie goreng, sekaligus kami tunaikan shalat dzuhur dan shalat ashar (jama taqdim) di kilometer 0 (nol).
Gambar : andirerei.com
Dalam perjalanan pulang kembali ke pelabuhan speedboat di Tering Kutai Barat, kami tidak banyak bicara, mungkin karena merasa lelah, bahkan beberapa orang dari kami sampai tertidur di atas arus sungai Mahakam menuju hilir.
Gambar : andirerei.com
Satu setengah jam sebelum tiba di Tering, kami singgah di wilayah Datah Bilang, yang merupakan sebuah tempat istirahat (rest area) dalam perjalanan di alur sungai Mahakam. Beberapa rumah makan terapung di sini menjajakan makanan dan minuman juga makanan ringan sebagaimana layaknya gerai makanan dan minuman di rest area yang ada di sepanjang jalan tol di Pulau Jawa.
Kami pesan kopi hitam panas, teh manis panas, membeli beberapa butir buah durian jatuhan dan juga lempok durian. Sekitar setengah jam kami beristirahat di Datah Bilang, perjalanan pun dilanjutkan menuju pelabuhan Tering, untuk kemudian disambung perjalanan darat sekitar 40 menit menuju kota Sendawar tempat kami bermalam dan tiba sekitar jam 19.00 WITA.
Buah Kapul
Dari seorang pegawai restoran di penginapan tempat kami bermalam, penulis ditawari untuk mencicipi buah Kapul. Bentuknya mirip buah Kecapi dan daging buah serta rasanya yang manis asam mirip sekali dengan rasa buah Manggis. Buah Kapul inilah yang disebut-sebut sebagai buah endemik wilayah Kutai Barat.
Buah Kapul
Keesokan harinya, kami berangkat dari Bandar Udara Melalan di Kota Melak (MLK) kembali ke Jakarta via Balikpapan (BPN). Dan sekitar jam 16.00 WIB kami mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta di Jakarta (CGK). Dari bandara penulis pulang ke Bogor dan yang lain pulang menuju rumah masing-masing.  
Rasa buah Ihau tidak jauh berbeda dengan buah Lengkeng, begitu pun rasa buah Kapul hampir sama dengan rasa buah Manggis. Namun meski begitu, tidak semua orang dapat merasakan manisnya buah Ihau dan manis asamnya buah Kapul. Karena untuk sekedar mencecapnya, terdapat jarak dan perlu waktu untuk pergi ke Pulau Kalimantan.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

0 komentar