Saturday, March 23, 2019

Menjual Saham Pada Saat Yang Tepat

MENJUAL SAHAM PADA SAAT YANG TEPAT

Saat yang tepat untuk menjual saham pada dasarnya adalah pada waktu seorang trader atau investor sedang dalam posisi untung (floating profit). Namun pertanyaannya adalah pada saat untung berapa banyak atau untung berapa persen. Tentu saja relatif, tergantung target keuntungan yang telah ditetapkan sebelumnya. Ketika harga menyentuh target kenaikan yang ditetapkan oleh seorang trader atau investor, saat itu adalah moment terbaik untuk menjual saham.
Pertanyaan selanjutnya yaitu bagaimana jika ternyata kenaikan harga terus menguat melampaui target kenaikan yang telah ditetapkan sebelumnya?. Apakah saham yang sedang di-hold tetap harus dijual?. Jawabannya bisa saja tetap di-hold, namun tentunya bukan lagi skenario lama yang digunakan, melainkan sudah harus menggunakan skenario baru dengan target kenaikan harga yang juga baru. Dengan begitu, maka artinya saat yang tepat untuk menjual saham pun sudah harus dirubah mengikuti skenario yang baru.     
Dalam menetapkan target keuntungan yang ingin diraih mesti berkorelasi dengan jumlah modal yang digunakan. Target keuntungan trading atau investasi sampai periode tertentu misalnya sebesar 100% dengan modal Rp100 juta, bisa saja tercapai. Dan itu akan terasa lebih mudah diraih jika dibandingkan dengan (misalnya) ketika modal yang digunakan sejumlah Rp100 milyar. Dengan modal Rp100 juta (relatif kecil), keluar masuk (buy/sell) dalam trading atau investasi akan lebih leluasa dibandingkan dengan jika modal yang digunakan sejumlah Rp100 milyar (relatif besar).
Dari sudut pandang analisis teknikal bahwa saat yang tepat untuk menjual saham diantaranya adalah pada waktu harga sudah berada di titik resistance. Lagi-lagi pertanyaannya adalah proyeksi titik resistance yang mana?, siapa yang menentukan titik resistance?, apakah angka resistance tersebut memang benar di titik tersebut?. Tentu saja yang menentukannya adalah trader yang bersangkutan, karena proyeksi titik resistance pada dasarnya adalah subyektif, tergantung time frame atau titik tolak dan basis awal analisis yang digunakan oleh seorang trader.
Bagaimana jika ternyata kenaikan harga tidak dapat mencapai titik resistance?, apakah mesti menunggu sampai titik resistance tersebut tersentuh?. Dalam kondisi demikian perlu dilihat sampai sejauh mana kekuatan trend kenaikan harga yang sedang terjadi. Apabila kekuatan trend sudah mulai melemah sehingga diperkirakan harga akan terkoreksi (turun) atau bahkan trend malah berbalik arah, maka itu pun merupakan waktu yang tepat untuk menjual saham.
Gambar : google image
Dari sudut pandang analisis fundamental bahwa saat yang tepat untuk menjual saham diantaranya adalah pada waktu kinerja perusahaan sedang berada di puncaknya sehingga rasio harga sahamnya telah sebanding (inline) dengan capaian kinerja keuangannya, atau pada saat harga sahamnya telah melebihi capaian kinerja keuangannya (overvalued), atau pada saat kinerja perusahaan mengalami stagnasi dan diperkirakan akan mengalami penurunan di masa yang akan datang sehingga nilai masa depan (future value) bisnis perusahaan tidak lagi prospektif.
Kondisi pertama pernah terjadi pada saham-saham batubara dalam kurun waktu selama tiga tahun terakhir. Setelah melemah cukup dalam sampai dengan akhir tahun 2015 mengikuti melemahnya harga minyak dunia, saham-saham batubara kembali menguat pada awal tahun 2016 sampai pertengahan tahun 2018 seiring dengan menguatnya kinerja keuangan emiten-emiten batubara yang meningkat signifikan mengikuti menguatnya kembali harga minyak dunia. Harga saham-saham batubara pada pertengahan tahun 2018 tersebut telah sebanding/inline dengan capaian kinerja keuangannya, maka trend kenaikan harganya saat ini mulai melemah kembali.
Hampir sama dengan yang terjadi pada saham-saham batubara, kondisi serupa pernah terjadi pada saham-saham kontruksi BUMN pada masa kampanye pemilihan presiden pada tahun 2014. Pada saat itu kinerja keuangan saham-saham kontruski BUMN biasa-biasa saja, namun karena adanya sentimen positif kampanye pembangunan infrastruktur, harga sahamnya mengalami kenaikan yang signifikan sehingga harga saham yang pada saat itu sudah relatif mahal menjadi “beneran” mahal melebihi nilai wajarnya.
Dan benar saja, kinerja keuangan yang dicapai emiten-emiten konstruksi BUMN kemudian memang naik secara signifikan. Namun karena sentimen hutang emiten konstruksi BUMN yang rata-rata tinggi, maka saat harga sahamnya telah sebanding/inline dengan kinerja keuangan yang dicapainya, maka pada awal tahun 2017 harga sahamnya kembali melemah hingga sekarang. Pada waktu itu harga saham PTPP Rp4.000-an, WIKA Rp3.600-an, WSKT Rp3.000-an, ADHI Rp3.600-an, saat ini semuanya turun cukup dalam ke harga Rp2.000-an.
Begitu pun pada kondisi kedua, perusahaan dengan future value biasa-biasa saja namun harga sahamnya sudah melebihi nilai wajarnya, pelan-pelan akan mengalami koreksi menyesuaikan kinerja terakhir keuangannya. Pengecualian kondisi kedua terjadi pada saham-saham di sektor konsumsi (consumer goods). Meskipun rasio harga saham terhadap kinerja keuangannya sudah sangat mahal (misalanya UNVR, ICBP, MYOR), namun karena bisnis emiten-emiten tersebut dianggap memiliki future value yang bagus, maka trend jangka panjang pergerakan harga sahamnya terus naik dengan stabil.
Kondisi ketiga akhir-akhir ini terjadi pada sebagian emiten di sektor perdagangan (retail) seiring dengan merebaknya bisnis yang menggunakan sarana transaksi jual beli online (e-commerce). Kinerja keuangan sebagian emiten di sektor ini mengalami penurunan imbas dari kehadiran e-commerce. Dengan hadirnya e-commerce ini apakah future value saham LPPF dan MPPA bisa dibilang tidak lagi prospektif? Wallahualam bissawab, hanya waktu yang dapat menjawabnya, namun yang pasti harga saham LPPF dan MPPA saat ini sudah turun sangat dalam.
Kembali ke judul artikel di atas, jadi kira-kira kapan saat yang tepat untuk menjual saham? yaitu pada saat target keuntungan yang ditetapkan oleh seorang trader atau investor telah tercapai. Selanjutnya, jika ternyata kenaikan harga malah terus berlanjut melebihi target, maka beralih lah dengan menggunakan skenario yang baru. Namun ternyata jika yang terjadi adalah sebaliknya, pergerakan harga saham malah berlawanan arah dengan hasil analisis dan terget kenaikan yang telah ditetapkan sebelumnya, maka saat itu pun merupakan saat yang tepat untuk menjual saham.
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

0 komentar