Saturday, January 26, 2019

Double Bottom Pattern

DOUBLE BOTTOM PATTERN
Gambar : google image
Dari berbagai pola pergerakan harga yang sering dijumpai dalam analisis teknikal, salah satu diantaranya adalah pola double bottom. Pola ini merupakan indikasi awal terjadinya pembalikan arah pergerakan harga dari trend turun menjadi trend naik. Bentuk umum pola double bottom dalam grafik (chart) pergerakan harga berbentuk seperti huruf W sebagaimana gambar 01 di bawah ini :
Gambar 01. Pergerakan harga dengan pola double bottom.
Pola double bottom terjadi pada saat dalam suatu trend turun, penurunan harga terhenti dan harga tersebut menjadi sebuah support (titik A). Selanjutnya harga berbalik naik sampai dengan titik resisten tertentu (titik B) di mana terjadi kembali aksi jual (profit taking). Profit taking tersebut mengakibatkan harga turun kembali ke besaran harga pada titik support yang telah terbentuk sebelumnya (titik C).
Pada saat harga mencapai support (titik C) dan ternyata tidak melanjutkan penurunannya (tidak dapat menembus support), namun sebaliknya harga malah kembali naik, maka terbentuk dua titik support (titik A dan titik C). Dua titik support ini membentuk pola yang disebut double bottom.Pola double bottom terjadi pada saat dalam suatu trend turun, penurunan harga terhenti dan harga tersebut menjadi sebuah support (titik A). Selanjutnya harga berbalik naik sampai dengan titik resisten tertentu (titik B) di mana terjadi kembali aksi jual (profit taking). Profit taking tersebut mengakibatkan harga turun kembali ke besaran harga pada titik support yang telah terbentuk sebelumnya (titik C).
Setelah harga berbalik naik dari titik C, pergerakan harga selanjutnya akan kembali menghadapi resisten di titik D, yang apabila mampu ditembus maka kemungkinan akan terus naik sampai di resisten berikutnya (titik E). Pembalikan arah tren (reversal) dari trend turun menjadi trend naik akan terkonfirmasi apabila pergerakan harga telah berada di atas titik E.
Pada titik C, titik D dan titik E di atas terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan oleh seorang trader. Pada saat harga berbalik naik dari titik C anda dapat melakukan pembelian dan kemudian menjualnya apabila harga hampir menyentuh titik D. Kemudian jika harga telah tembus dan bergerak di atas titik D anda dapat melakukan pembelian kembali dan menjuaknya apabila harga hampir menyentuh titik E. Begitu pun jika harga telah menembus titik E anda buka kembali posisi beli untuk kemudian membuka posisi jual pada saat harga telah hampir menyentuh resisten berikutnya.
Namun apabila ternyata pembalikan arah kenaikan harga yang dimulai dari titik C tersebut diiringi dengan volume yang signifikan, anda dapat membiarkan posisi floating profit dengan terus mengikuti kenaikan harga tanpa membuka posisi jual sampai dengan posisi harga mencapai titik E. Biasanya trend telah benar-benar berbalik arah (reversal) dan membentuk trend naik yang baru pada saat pergerakan harga terjadi di atas titik E.
Dalam pola double bottom, anda dihadapkan pada dua pilihan yang dapat diambil, yaitu melakukan antisipasi atau menunggu konfirmasi. Keduanya menyesuaikan metoda trading dan profil resiko anda.
Melakukan antisipasi dengan cara melakukan pembelian pada saat harga menyentuh titik C atau titik D atau titik E. Artinya anda melakukan pembelian pada saat harga “akan” menembus resisten. Kelebihan cara ini adalah potensi keuntungan yang dapat anda peroleh lebih besar jika harga benar-benar menembus resisten (breakout). Kekurangannya adalah jika harga tidak dapat menembus resisten dan malah kembali turun, berpotensi menimbulkan kerugian bagi anda.
Menunggu konfirmasi artinya anda melakukan pembelian pada saat harga telah benar-benar berbalik naik (breakout) dari titik C atau titik D atau titik E. Pembelian anda lakukan pada saat harga “telah” menembus resisten. Kelemahan cara ini adalah jika setelah menembus resisten kemudian kenaikan harga terus berlanjut, maka potensi keuntungan yang dapat anda peroleh lebih kecil dibandingkan dengan jika anda mengambil langkah melakukan antisipasi dimaksud di atas. Kelebihannya adalah jika harga ternyata tidak jadi menembus resisten dan malah kembali turun, anda tidak akan mengalami kerugian karena anda belum melakukan pembelian.
Apakah terbentuknya pola double bottom selalu diikuti dengan pembalikan arah pergerakan harga (reversal) dari trend turun menjadi trend naik? Belum tentu, tidak selalu, karena bisa saja pola double bottom yang terbentuk tersebut lemah (flase). Oleh karena itu selain memperhatikan indikator volume, anda perlu melihat indikator teknikal lainnya, misalnya indiktor Moving Average (MA) sebagaimana gambar 02 di bawah ini :
Gambar 02. Indikator Moving Average (MA) pada pergerakan harga dengan pola double bottom.
Dalam suatu trend naik yang kuat (bullish), posisi garis MA periode yang lebih pendek berada di atas garis MA periode yang lebih panjang. Berurutan dari atas ke bawah mulai dari MA 20, MA 60, MA 120 dan terakhir MA 240. Rata-rata harga pada periode lebih pendek posisinya berada di atas rata-rata harga periode lebih panjang.
Pada gambar 02 di atas tampak bahwa garis MA dengan periode lebih pendek (MA 20) telah menembus ke atas (cross up) garis MA dengan periode lebih panjang (MA 60, MA 120 dan MA 240). Artinya bahwa rata-rata harga 20 hari terakhir telah lebih besar daripada rata-rata harga 60 hari, 120 hari dan 240 hari terakhir. Kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa trend kenaikan harga yang sedang terjadi dalam jangka pendek cukup kuat.
Namun demikian anda lihat bahwa posisi garis MA 60 masih dibawah garis MA 120 dan garis MA 240. Begitu pun posisi garis MA 120 masih di bawah garis MA 240. Artinya trend naik jangka menengah (60 hari dan 120 hari) atau jangka panjang (240 hari) masih lemah.
Dalam kondisi tersebut, selama pergerakan harga terus membuat formasi “Higher High” atau tidak terjadi/tidak membuat formasi “Lower Low”, anda dapat terus mengikuti trend naik tersebut untuk mengoptimalkan potensi keuntungan.   
Demikian, mudah-mudahan bermanfaat.

0 komentar